Detik-Detik Menuju detikcom Bagian 1

Jumat, Februari 01, 2019

Di bawah langit abu-abu tengah hari Jumat yang bergemuruh, mendung dan basah, ku menghabiskan waktu makan siangku sendirian duduk di pojok The Coffee Bean and The Tea Leaf kantor Trans Media. Hari ini adalah hari pertamaku bekerja, hari dimana aku resmi bergabung dengan Trans Digital Media, bergabung dengan detikcom segera setelah menandatangani kontrak kerja dengan tengat waktu. Di hari yang sama pula, aku terlepas dari label sebagai beban negara yang disebut dengan pengangguran.

Setelah perjalanan panjang yang cukup membosankan dan menekan kewarasan, akhirnya ku mendapat pekerjaan. Selesai menjadi relawan di Asian Para Games, hidup menjadi seorang pengangguran penuh waktu sungguh sangat tidak mengasyikan. Walaupun sebelum ku diterima di detikcom sebagai reporter detikNews, ku pernah menjadi pekerja lepas untuk menjadi usher instalasi seni yang ada di Senayan City. Tetap saja, menjadi pengangguran memiliki daya tekan yang tinggi, terlebih jika kamu adalah anak pertama yang lulus di rumahmu dan kondisi keuangan keluargamu tidak begitu baik namun tuntutan akan pembayaran ini dan itu terus bergulir. Mereka tidak peduli kamu anak pertama atau kedua atau kesekian bahkan kamu laki-laki atau perempuan. Tidak ada hubungannya.

Sebagai seorang pelamar kerja yang mengandalkan kepraktisan teknologi, aku pun melamar kerja melalui berbagai portal iklan lowongan kerja. Salah satu yang paling terkenal adalah Jobstreet.com. Di banding portal-portal berita lain yang ku gunakan, Jobstreet adalah yang paling ku andalkan karena lowongan pekerjaan yang diiklankan banyak dan beragam selain itu mendapat tanggapan dari perusahaan terkait dengan cukup cepat. Melalui Jobstreet pula aku melamarkan diri untuk posisi reporter detikNews, yang akan menyajikan berita terkait dengan isu politik, hukum, keamanan bahkan metropolitan.


Akhir tahun 2018, tepat bulan Desember aku mengirimkan lamaran ke detikcom via Jobstreet. Di awal Januari, Alhamdulillah sudah mendapat respon dengan memberikan undangan untuk melakukan sesi wawancara via e-mail yang diperjelas dengan mengirimkan SMS. Jarak antara melamar pekerjaan dan diundang wawancara adalah dua minggu, cukup cepat dibandingkan dengan lamaran-lamaran yang lain, yang bahkan tidak dilihat oleh HRD-nya.

Bermodalkan kemampuan riset melalui artikel yang dibuat oleh orang-orang yang telah menjalani prosedur rekrutmen di detikcom maupun TransMedia, aku menyiapkan diri untuk banyak hal seperti, pertanyaan yang akan ditanyakan oleh HRD dan informasi dasar yang terkait dengan reporter dan/atau dunia jurnalistik beserta kode etiknya.

Sungguh di luar dugaan, sesi pertama ini aku langsung bertemu dengan Koordinator Liputan detikNews berserta dengan seorang editornya. Panik? Jelas. Karena aku menyiapkan diri bukan untuk ini. Bukan untuk langsung bertemu dengan user atau atasan yang bertanggung jawab langsung atas diriku. Pengalaman adalah guru terbaik, bukan? Bukan kali ini. Sejauh pengalamanku, inilah kali pertama wawancara kerja yang mempertemukanku dengan user di pertemuan pertama, bukan dengan HRD.

Walaupun terkejut, aku masih dapat melakukan wawancara dengan baik. Aku bisa menjawab semua pertanyaan, yang menurutku, ku jawab dengan baik atau mungkin terlalu baik? Pertanyaan-pertanyaan umum yang biasa ditanyakan pada saat wawancara seperti jelaskan tentang diri sendiri, mengapa ingin bekerja di perusahaan ini dan posisi ini, apa yang kamu ketahui tentang perusahaan ini dan sebagainya dan sebagainya. Terlalu baik menjawab pertanyaan-pertanyaan itu sampai aku terlalu nyaman dan terbawa suasana.

Aku, yang merasa bahwa kami bertiga tidak sedang berada dalam sesi wawancara kerja melainkan berbincang biasa layaknya teman. Aku yang memiliki seorang Abang yang berkuliah di jurusan Jurnalistik di kampus yang sama denganku pun membuatku tahu sedikit-banyak tabiat pelaku jurnalistik. Selain itu, aku juga pernah berinteraksi dengan mereka bahkan sebelum aku kuliah di Jakarta. Dulu, saat aku masih SMA, aku pernah menjadi seorang liasion officer untuk membantu para pewarta untuk meliput turnamen Barongsai yang diadakan oleh Pemerintah Kabupaten Belitung Timur. Pewarta yang mungkin karena tekanan kerja membuat mereka menjadi pribadi yang bukannya kaku, malah sebaliknya, menyenangkan, jahil atau bahkan konyol. Begitu pula dengan dua pewawancara yang sedang ku hadapi saat itu.

Aku yang memang seorang periang dan menyukai orang-orang yang ramah dan hangat. Dapat dikatakan bahwa aku adalah seorang yang pandai bergaul dan beradaptasi, maka aku pun terbawa dan berbaur dengan gaya berbicara kedua pewawancaraku itu. Menjawab pertanyaan dengan perasaan ringan, beban hilang karena rasa nyaman dan merasa cocok dengan gaya candaan mereka yang sarkas namun tidak kasar. Sampai dengan di akhir sesi wawancara, aku diingatkan sesuatu oleh Mas Fajar, Sang Editor, “Besok-besok, kamu jangan kaya gini ya?”
“Kenapa, Mas?”, tanyaku heran.
“Kalo orang gak tahu kamu, kamu disangkanya selengekan. Gak semua orang suka sama yang kaya gitu”, lanjutnya.
Seketika aku membenahi diriku. Menegakkan tumbuhku. Mencoba untuk lebih serius dan teratur. Mencoba untuk mengontrol eksperesiku yang sebisa mungkin untuk tidak terlalu banyak tersenyum apalagi tertawa.

Tidak hanya pertanyaan khas HRD yang kamu bisa melatih jawabanmu dengan googling, kali ini ada sesuatu yang cukup berbeda, yang jarang ku dapat saat wawancara kerja. Pertanyaan mengenai portofio, mengenai pengalamanku dalam menulis. Dan blog inilah portofolioku. Dan memang inilah salah satu tujuanku untuk kembali aktif dan disiplin dalam blogging.

Menyebut soal blogging¸ aku diminta untuk memilih salah satu artikel terbaik menurutku untuk dibaca oleh kedua pewawancaraku. Mas Fajar menanyakan alamat blogku dan akhirnya menyuruhku untuk mengetik sendiri dan langsung menampilkan kiriman pilihanku. Yang sebenarnya, kiriman-kiriman blog pilihanku ini telah aku cetak bersamaan dengan form data diri yang dikirimkan via surel.

Sebuah kiriman yang ku tulis dalam bahasa Inggris. Salah satu yang terbaik menurutku. Bukan karena ku tulis dalam bahasa Inggris. Tapi karena memang kontennya cukup berbobot dan dapat memberi dampak kepada pembacanya selain memang ada bagian yang aku membagikan pengalamanku di situ. Sayang sekali, Mas Fajar keberatan atas pilihanku.
“Yang lain. Yang pakai bahasa Indonesia.”, selorohnya sambil menyodorkan kembali ponselnya padaku.
“Ini bukan berarti aku gak bisa bahasa Inggris, ya. Tapi sejauh ini detik belum ada niatan untuk memuat berita dalam bahasa asing. Jadi yang bahasa Indonesia aja, gak perlu yang bahasa Inggris. Karena yang baca juga orang Indonesia.”, sambungnya begitu.

Percakapan mengenai bahasa Inggris dan bahasa asing ini pun berlanjut dengan pertanyaan-pertanyaan terkait dengan kemampuanku menulis dan berbahasa. Sebagai seorang yang berpengalaman, sedikit, satu tahun sebagai editor koran sekolah masa SMA aku cukup optimis. Ditambah lagi dengan latar belakang yang memang hobi menulis, suka belajar berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Diperkuat lagi dengan pengalamanku satu tahun menjadi tutor bimbel bahasa Indonesia. Ku rasa aku cukup bisa menonjolkan diri saat itu.

Sampailah kepada pertanyaan tentang kemampuanku mengetik cepat dan akurat.
Aku hanya berkata, “Kalau bahasa Indonesia sih saya jarang typo, Mas. Tapi kalau bahasa Inggris, kadang saya suka typo. Kayak yang ketinggalan ‘s’ atau ‘ed’ kaya gitu. Grammatical error lah pokoknya.”
Dan Mas Fajar kembali mengulangi perkataannya yang sebelumnya mengenai detik yang belum ada rencana untuk menggunakan bahasa asing.
“Ada lagi? Kelemahan kamu? Apa yang kamu ga bisa?”, tanya Mas Fajar lebih lanjut.
“Yang saya gak bisa?”, lebih bertanya kepada diri sendiri seraya berpikir.
“Oh!”, aku pun mendapatkan jawaban. “Saya gak bisa edit video, Mas. Kalau edit foto masih bisa lah sedikit-sedikit, dasarnya.”.
“Ada lagi?”, Mas Fajar menanggapi dengan cepat.
Aku diam sambil mencari ketidakmampuanku yang lain terkait bidang jurnalistik. Aku masih sibuk berpikir dan mencari-cari jawaban.
Mas Fajar menceletuk, “Bahasa asing? Bahasa asing apa lagi yang kamu ga bisa? Polandia?”
Seketika aku terkejut. Dari mana Mas Fajar tahu aku belajar bahasa Polandia?, pikirku. Padahal aku tidak menuliskannya dalam CV. Apakah ia mencarinya di Linkedin-ku? Entahlah.

Dan sebelum sesi wawancara ditutup, aku pun diberi tugas oleh kedua pewawancara itu, sebuah tes menulis berita. Cukup kaget, tapi sebenarnya tidak terlalu mengejutkan karena salah satu pengalaman yang ku baca pun pernah merasakan ini. Namun tes yang ku hadapi saat itu lebih mudah. Aku tidak diminta untuk langsung mencari berita di lapangan yang dalam beberapa jam kemudian harus kembali ke lantai 8 untuk menyetorkannya. Tidak, tidak begitu. Yang perlu ku lakukan hanyalah mendengarkan sebuah doorstop interview Presiden Jokowi di Istana Bogor dari channel Youtube CNN Indonesia. Ku diberi waktu 15 menit untuk menyelesaikan transkrip dari video berdurasi kurang lebih 3-5 menit.

10 menit berlalu. Setelah aku mendengarkan video yang ditayangkan di layar laptop milik Mas Heri sambil mengetik poin-poin penting atau apapun yang ku dengan dan ku rasa penting. Kemudian, ku menggabungkannya menjadi sebuah berita pendek atau mereka menyebutnya transkrip. Masih ada sisa lima menit. Grogi karena takut hasilnya tidak sesuai ekspektasi atau ada data dan informasi yang kurang atau salah, aku kembali membaca tulisan yang ku hasilkan berulang-ulang kali. Dan waktunya pun habis, mereka pun kembali ke dalam ruangan dan menanyakan hasilku.

“Sudah selesai, Mas.”, ujarku.
Namun dilanjutkan dengan sebuah pertanyaan, “Pake headline ga, Mas?”. Sebuah pertanyaan retoris sebenarnya. Dan jawabannya jelas.
“Ya, iya dong! Justru di situ poinnya.”, sahut Mas Fajar.
“Sebentar, Mas.”, aku pun buru-buru memikirkan sebuah judul berita yang cukup baik dan menarik dan tentu berelasi dengan isi beritanya. Namun, tak ada yang ku dapat selain sebuah judul berita yang kaku layaknya di koran jaman dulu. Tak bisa apa-apa, ku hanya bisa langsung mengirimkannya karena keduanya telah menunggu dan menagihku.
“Segini doang, nih? Udah maksimal? Yah… Ya udah kalo segini doang mah.”, Mas Fajar mengomentari hasil tulisanku.
Aku tidak bisa berkata apa pun selain “Iyaaa, Mas.” dengan nada yang cukup memelas mungkin. Energiku sudah turun, begitu juga dengan optimismeku.
“Ya udah kalo maksimalnya kamu segini doang. Padahal ini yang paling penting. Jadi, kita tuh tadi cuma ngobrol-ngobrol biasa. Paling, yaaa, bobotnya 10 persen lah. 80 persennya dari tulisanmu, terutama headline-nya. Sama, 10 persen lagi dari cara kamu nutup mintu tadi.”, sambung Mas Fajar.
Ku hanya diam sejenak. Padahal di ujung perkataannya Mas Fajar menyelipkan canda. Canda yang tertutupi oleh raut wajah yang cukup serius, yang membuatku pada awalnya tak paham mana candaan, mana pembicaraan serius.


Selain membahas soal judul berita, ada hal lain yang menjadi komentar dari Mas Fajar. Sebuah kutipan.
“Menurut kamu, kutipan itu penting gak dalam berita?”, tanya Mas Fajar memancingku.
“Penting, Mas.”, jawabku dengan jelas.
“Terus?”, Mas Fajar bertanya padaku dengan nada menggantung.
Aku masih diam, berpikir atau berpura-pura berpikir atau sedang berusaha agar terlihat seperti sedang berpikir.
“Ya, kamu tahu lanjutannya. Jawab.”, sambung Mas Fajar.
“Kenapa saya gak memakai kutipan?”
Mas Fajar hanya diam. Tanda aku harus menjawab pertanyaan yang ku ucap.
“Karena saya gak biasa pakai kutipan, Mas. Saya lebih suka menarasikan.”, jelasku.
“Padahal apa saja tuh bisa dijadikan kutipan. Dengung suara kodok di malam hari. Suara angin. Apa pun. Apa saja bisa dijadikan kutipan.”, balas Mas Fajar.

Aku tahu ada sinyal sarkasme yang ia kirimkan padaku. Tapi aku tak bergeming. Hanya diam. Kali ini benar-benar berpikir, mengkoreksi tulisanku, mencoba melihatnya dari sisi yang berbeda. Apa yang dikatakan Mas Fajar tidak salah sama sekali. Sebaliknya, sebuah rasa syukur aku diberi masukan bahkan saat pertama kali bertemu. Sebuah masukan dan komentar yang jujur tapi membuatku tahu apa yang harus ku lakukan ke depannya. Sesuatu yang membuatku belajar dan berkembang. Sesuatu yang membuatku lebih baik, lebih besar. Sesuatu yang ku suka.

“Terus ini kamu ngapain?”, Mas Fajar mengomentari gelagatku yang mengangguk-angguk sendiri dalam diam setelah mendengar perkataannya.
“Ha?! Enggak, Mas. Cuma mikirin aja apa yang Mas omongin tadi.”, jawabku sopan.
Kan ku lihat ada setipis senyum, entah apa maknanya, aku tak yakin, muncul di wajah Mas Fajar.

“Ada yang mau ditanyai ga?”, tanya Mas Fajar mengembalikan kesadaranku.
“Hm.”, dehamku sambil berpikir. “Saya bakal dapet kabar keterima atau enggaknya kapan yaa, Mas?”
“7-14 hari. Kalau jodoh. Kalau cocok.”, jawab Mas Fajar.
“Jadi, kalo lebih dari 14 hari ga ada kabar berarti ga diterima ya, Mas?”, aku pun memastikan kembali.
“Ya, kemungkinannya ada tiga. Kalau cocok, ya nanti dikabari. Kalau belum ada kabar ya, tunggu sampai 14 hari. Kalau sampai 14 hari gak ada kabar, ya, berarti ga jodoh.”, jelas Mas Fajar.

“Baiklah kalau begitu.”, sahutku mengakhiri pembincangan dengan kekhawatiran akankah aku diterima di detikcom atau tidak. 

You Might Also Like

0 komentar