Hampir Tertinggal di Jogja

Minggu, Maret 22, 2020


Kembali ke Jogja setelah sekian lama. Kali ini bukan untuk kegiatan yang mendukung CV building yang selalu gue agung-agungkan sejak sekolah dulu, melainkan untuk kegiatan yang mendukung kesehatan gue, lahir dan batin. Sisi lahir yang terpenuhi melalui kegiatan lari yang gue pilih sejak akhir tahun lalu. Sisi batin yang akan terisi melalui liburan singkat di kota yang katanya istimewa ini.

Namun, benar adanya, kota ini istimewa karena berhasil membuat gue pulang dengan sebuah jawaban atas pertanyaan yang telah lama terpendam. Jogja pun kembali mempertemukan gue dengan cerita masa kecil yang lebih dari sepuluh tahun tak berjumpa. Jogja yang sedikit banyak membuat gue merasa spesial sama seperti dirinya.

Senin, 9 Maret 2020 adalah hari terakhir gue di Jogja setelah event lari di Merapi di hari sebelumnya. Memilih untuk berkelana sendiri, mengandalkan teman-teman yang berada di kota ini, satu sudah berhasil gue temui di malam sebelumnya, sisa satu lagi yang bersedia menyisihkan waktu untuk bertemu satu sama lain.

Teman yang satu ini cukup menguji emosi sebab sejak gue belum sampai di Jogja pun kami sudah sering berkontak satu sama lain. Ia menanyakan kabar dan rencana gue selama di Jogja. Minggu malam pun ia menawarkan diri untuk bertemu tetapi gue memilih untuk menghabiskan malam dengan teman lainnya, yang pernah menyelamatkan kehidupan gue di Jogja dengan tumpangan kosannya, sembari berkelakar tentang kehidupan manusia yang menuju dewasa ini. Tidak jadi bertemu di akhir pekan, ia pun punya waktu luang di hari Senin. Syukurlah, setidaknya gue bisa bertemu orang ini di Jogja, pikir gue begitu.

Punya rencana sendiri untuk menghabiskan satu hari penuh untuk berkeliling sesuka hati. Gue tetap kalah dengan tubuh yang terus minta rebahan. Tidak ada realisasi dari keinginan pergi ke Gereja Ayam agar seperti Cinta dan Rangga, gue terlalu malas untuk bangkit dari ranjang, begitu juga kemalasan yang sama besarnya untuk pergi sendirian dan mengendari motor dengan jarak yang lumayan. Akhirnya, gue baru keluar rumah setelah waktu makan siang dan tujuannya sederhana dan hanya satu, Museum Affandi.

Sejak terakhir gue pergi ke Museum Mandiri di Kota Tua untuk melihat pameran reproduksi karya-karya dari Leonardo da Vinci, gue merasa ketertarikan gue atas seni semakin meninggi. Gue pun terdorong untuk belajar lebih lagi soal seni dan nggak cuma soal karya tulis. Gue merasa butuh untuk eksplorasi dan memahami seni lebih dari saat ini.

Pergilah gue ke Museum Affandi seorang diri. Sebuah waktu sendiri yang cukup gue nikmati, melihat lukisan Affandi satu per satu dan mencoba mengerti dan menghayatinya. Tak ada yang mengganggu dan membuat gue terburu-buru. Gue pun berusaha meresapi setiap goresan, warna dan makna dari karya yang dibuat Affandi sampai satu lelaki paruh baya mendekat dan menjelaskan tentang lukisan-lukisan yang dipajang, begitu juga dengan ceritanya. Seketika, gue nggak lagi sendirian.

Cukup lama gue mendengarkan dari si Bapak - yang sampai detik ini gue nggak tahu namanya siapa karena nggak bertanya, gue pun mendapat pesan dari kawan yang berencana untuk bertemu hari itu. Pertanyaan yang ia tanyakan tidak jauh berbeda dari sebelumnya, menanyakan dimana posisi gue, apa masih di Museum Affandi atau nggak, apakah gue ke sana sendirian atau ditemani. Jawabannya jelas, sendirilah!

“Keras banget lo nih emang,” reaksinya begitu.

Sampai beberapa lama gue masih di Museum Affandi, berkeliling menikmati tiap-tiap lukisan atau sketsa yang ada. Sampai cukup sore, hujan tidak lagi berjatuhan, ia pun masih belum datang ke tempat itu. Sampai satu botol Tebs yang gue pilih sebagai jatah gratis yang diberikan dari karcis masuk pun habis. Sampai gue akhirnya memilih untuk berbincang dan menanyakan beberapa pertanyaan soal seni dan lukisan serta kegundahan hati gue bersama seorang pelukis yang ada di Studio Gajah Wong masih di dalam kawasan Museum Affandi.

Terlalu asik dengan percakapan yang ada, gue pun menelantarkan teman gue cukup lama, mungkin 5-10 menit. Biarlah, tadi dia juga lama, pikir gue begitu. Pertanyaan pribadi gue, kegelisahan, ketakutan dan ketidakpercayaan diri gue untuk berkarya pun terjawab, gue punya pekerjaan rumah yang harus banyak dilakukan dan latih. Kemudian, gue pun berpamitan dan berlari kecil menuju parkiran untuk mengambil motor sewaan dan bertemu dengan teman masa sekolah dasar dulu.

Di depan gerbang museum sedang duduklah seorang lelaki dengan pakaian serba hitam semua dari atas kepala sampai kaki. Gue menyapa dengan riang, layaknya gue biasa dalam keseharian. Sebuah upaya untuk melebur kecanggungan dua manusia yang telah lama sekali berjumpa sekaligus menghapus kekikukkan yang timbul karena gue membuatnya menunggu cukup lama.

Basa-basi soal seberapa lama ia menunggu gue di sana, kami pun pergi dari museum ke tempat lain. Katanya sih, ia berniat untuk menemani gue membeli bakpia sebagai oleh-oleh. Namun, ke mana kami pada akhirnya melipir?

“Land, lo udah pernah ke sini?”, tanyanya saat kami di jalan yang memutar-mutar di daerah alun-alun dan tidak jauh dari kompleks Keraton.

“Hm, belum. Ngapain? Di sini nggak ada apa-apa. Makanan yang Jogja banget juga nggak ada kayaknya. Temen gue juga nyaranin buat ke sini sih. Tapi, cuma ada sepeda yang pake lampu warna-warni itu. Ngapain?”, jawaban panjang dari gue untuk sebuah pertanyaan singkat.

Ia tidak banyak membalas kecuali tertawa karena sepeda warna-warni yang gue bahas atau setuju kalau di alun-alun nggak ada makanan yang Jogja banget. Sementara, ia pun bingung makanan yang Jogja banget itu apa.

Dan… tiba-tiba motor yang ia kendari dan gue tumpangi berhenti di parkiran tepat di pintu Keraton. Gue pun bingung. Kan gue nggak minta dibawa ke sini lalu ngapain berhenti?

Turun dari motor dan melepas helmet, gue tetap nggak bertanya kenapa kami berhenti di sini, untuk apa, padahal tujuan utamanya adalah beli bakpia. Di alun-alun dan Keraton nggak ada yang jual bakpia sejauh yang gue lihat.

Tanpa banyak bicara dan mendebat soal mengapa kami di sini. Gue pun mengikuti langkah kakinya. Lalu kami berjalan kaki mengelililngi alun-alun sambil bertanya soal hidup masing-masing; kesibukan apa yang sedang dijalani, pekerjaan, pandangan kami soal hubungan dan pernikahan bahkan budaya patriarki di kalangan masyarakat Jawa.

“Parah, Land.” responnya saat gue tanya soal seberapa partriarkis orang-orang Jawa.

Mungkin ini rasis. Tetapi gue selalu punya stereotip sendiri soal budaya Jawa dan bagaimana mereka melihat dan memperlakukan perempuan. Bukan terlahir dan tumbuh-kembang di keluarga Jawa, gue jauh dari paham soal kepercayaan bahwa perempuan haruslah ayu, lemah-lembut seperti Putri Keraton. Belum lagi, peran perempuan yang ditanamkan di masyarakat hanya untuk sektor domestik, masak dan di rumah. Sesuatu yang bukan gue dan nggak bisa gue terima.

Selain pohon beringin kembar yang berada di tengah alun-alun, nggak ada lagi lainnya yang gue tahu. Bahkan gue baru tahu kalau jalan berbatu tepat di depan Keraton yang rasanya cukup nyaman untuk dijadikan tempat lari.

“Susah ya anak lari. Semua tempat bawaannya buat lari,” katanya menanggapi ocehan gue.

Gue hanya tertawa sambil menceritakan cerita lari lainnya. Ketika gue pulang ke Belitung untuk liburun, liburan sambil lari. Nggak peduli apakah harus ke tempat-tempat wisata, tujuan gue saat kembali ke sana hanya satu, merasakan lari di pantai, juga lari mengelilingi kota kecil itu. Lari memang menjadi alasan tersendiri buat gue bisa keluar dari ibukota dan mencari kesegaran di tempat lain.

Terus berbincang, tak terasa kami telah menghabiskan satu putaran mengelilingi alun-alun di bawah senja Jogja yang berawan dan lembap pasca hujan barusan. Gue pikir kami akan melanjutkan beberapa putaran lagi layaknya berlari sebenarnya yang biasa gue lakukan sehari-hari. Ternyata, ia memilih untuk melipir dan kami pun kembali ke parkiran. Toh, gue juga lapar. Sejak tadi sebelumnya, sebelum keluar dari Museum Affandi gue sudah mulai lapar namun masih ditahan.

“De, lo laper nggak? Gue laper nih. Makan yuk!” gue melapor untuk diajak ke tempat makan enak, tentunya sesuai harapan gue, yang Jogja banget.

Lagi, ia nggak banyak menanggapi dan langsung mengambil helmet masing-masing lalu pergi dari alun-alun. Entah lewat jalan Jogja yang sebelah mana, yang jelas gue nggak tahu dan nggak familiar dengan itu. Bukan jalan yang pernah gue lalui sebelumnya. 

Ia pun meminggirkan motor dan menaikkannya ke sebuah trotoar. Ada satu toko kue yang gue yakin kami nggak akan makan di sana. Gue pun nggak akan kenyang hanya makan kue. Nasi adalah keharusan tak terbantah. 

Kami berjalan sedikit ke sebuah warung tepat di persimpangan jalan. Lumayan ramai namun bukan menjual makanan khas Jogja seperti yang gue damba. Dapur yang terbuka bisa terlihat jelas oleh kami para pelanggan yang akan makan di sana. Asap mengebul dari panci-panci yang memasak sup.

Jadi, ini adalah warung sup ayam. Sebelum makan dan mencari tempat duduk kami harus memilih terlebih dahulu apa yang ingin kami makan, daging ayam bagian mana, dada, paha atau yang lainnya. Pisahkan. Lalu, ibu-ibu yang berada di dapur akan memasaknya. Satu potong daging untuk satu mangkuk sup. Baru ini gue merasakan pengalaman makan semacam ini. Terasa sekali kalau gue mainnya kurang jauh, ya?

Setelah menentukan paha bawah tung-tung sebagai menu malam itu, gue yang amatir ini pun memberitahu ibu yang bertanggung jawab atas pemesanan mengenai minuman apa yang akan gue pesan. Sayangnya, gue salah. Itu bukan lagi bagian dari 'ibu pemesanan' melainkan urusan orang lain lagi. 

Gue kemudian melipirlah gue ke dalam warung tersebut bersama kawan gue itu. Kami agak bingung mau duduk di sebelah mana karena setiap meja sudah terisi oleh orang-orang yang datang lebih dulu. Mau nggak mau kami pun harus bergabung dengan yang lain. Sebuah meja yang di pojoknya masih kosong menjadi pilihan kami. Gue pun permisi dan melewati sepasang manusia yang ada di sisi ujung meja lainnya.

“Ini tuh apa ya, De?” tanya gue kepadanya segera setelah kami duduk di bangku masing-masing.

Sup Merah namanya dan itu nampak jelas di dari baju kaos seragam yang dipakai oleh tiap-tiap ibu yang melayani pesanan kami. Gue baru menyadarinya sambil tertawa. Lalu, kami pun membuka perbincangan lainnya sambil menunggu.

Cukup banyak yang kami bahas. Gue rasa apa pun yang bisa kami bahas dan diskusikan akan kami bahas. Pertemuan dengan teman lama yang gue rasa cukup cocok dengan cara berpikirnya. Kami cukup nyambung satu sama lain, nggak heran pembicaraan kami cukup terjaga.

Salah satu yang kami bahas pun soal hubungannya dengan teman-teman SD yang lain. Sebelum berangkat ke Jogja, gue memang berbincang dengan satu teman SD lainnya, menanyakan apakah dia kerap berhubungan dengan teman yang satu ini. Ternyata nggak. Gue pun menanyakan hal ini kepadanya. Mengapa.

Di sini gue baru mengetahui kalau dia seorang introver dan pemilih dalam berinteraksi dengan manusia lain. Sedikit banyak, ini pun menjawab pertanyaan terpendam gue saat dulu. Nggak banyak yang tetap berinteraksi dengan dia sampai hari ini sejak kami lulus SD dulu. Selain gue, ada satu teman lagi yang masih mengontaknya, satu orang yang cukup menjadi temannya saat ia kembali ke tempat kami.

Gue memang bukan seorang introver namun semakin usia bertambah, gue pun semakin memilih interaksi yang gue lakukan dan dengan siapa. Jujur saja, kalau kami berdua tidak memilih jurusan yang sama saat kuliah mungkin hari itu nggak akan ada. Gue nggak akan makan malam bersama dia di tengah Jogja yang diguyur hujan deras. Gue nggak akan menikmati Jogja dengan ‘kearifan’-nya. Gue nggak akan menikmati perbincangan kami sambil menunggu hujan reda sementara gue harus pulang ke Jakarta malam itu juga.

Interaksi gue dengan kawan ini bermula ketika pertama kali gue ke Jogja untuk mengikuti sebuah simulasi pertemuan organisasi internsional atau kerap dikenal dengan Model United Nations (MUN). Sebuah kegiatan yang terkesan wajib untuk diikuti oleh mahasiswa jurusan hubungan internasional seperti gue ini. Berlagak seperti diplomat mewakili negaranya dan berdiplomasi untuk mencapai kepentingan nasional, seperti itulah kira-kira yang dilakukan.

MUN yang gue ikuti itu diselenggarakan oleh kampus kawan gue ini. Nggak sedikit juga peserta yang mengikuti kegiatan ini berasal dari kampusnya sendiri. Setelah acara tersebut selesai, gue mengunggah momen yang gue habiskan pada kegiatan itu di Instagram bersama orang-orang yang gue temui di sana. Teman gue ini kemudian mengenali salah satu orang yang berada di foto yang gue unggah barusan.

“Kayak temen gue, Lan.” Katanya pada kolom komentar unggahan Instagram gue.

Dari situ gue baru mengetahui kalau kami satu jurusan. Dari situ juga kami mulai berkomunikasi lagi setelah bertahun-tahun tidak. Mungkin, terakhir saat kami perpisahan?

“Kapan ya terakhir kali gue ketemu Joseph? Pas ambil rapor deh kayaknya, kalau nggak salah.” Jawabnya saat gue tanya kapan terakhir kali bertemu dengan teman-teman SD kelompoknya yang nakal itu.

“Iya. Bener. Pas ambil rapor. Lo juga sama. Terakhir pas ngambil rapor kayaknya. Itu udah berapa tahun ya?” Sambungnya.

Lalu, kami berdua mulai berhitung sudah berapa lama kami tidak bertemu satu sama lain. Jika ditotal, tiga tahun SMP, tiga tahun SMA dengan empat tahun masa kuliah dan satu tahun lagi setelah mendapatkan gelar sarjana, kira-kira sebelas tahun. Lama juga rupanya.

Masih membahas soal sisi introvernya yang sebenarnya ia juga nggak begitu mengerti. Ia pun nggak mau melabeli dirinya sebagai seorang introver. Jelas yang ia tahu dan rasakan adalah lelah untuk berinteraksi dengan manusia dalam bentuk apapun, bahkan untuk chatting sekali pun.

Lagi-lagi, gue tertegun. Lagi-lagi gue tidak mengerti jenis manusia seperti ini karena gue adalah kebalikannya. Ia pun menambahkan, ia pun enggan untuk pergi keluar dari kosannya atau berjalan-jalan, nongkrong layaknya pemuda kebanyakan, kecuali jika ia diajak oleh temannya yang memang sedang bertemu dengannya secara langsung. Gue pun tiba-tiba merasa tersanjung. Lelaki ini ada di depan gue saat itu meskipun ia benci berinteraksi dengan orang lain.

“Terus, kok lo mau ketemu gue sekarang?” Tanya gue antara penasaran dan iseng.

Sejenak ia mengambil waktu sebelum menjawab pertanyaan gue. “Ya, kalau kayak gini gue nyaman. Gue ngobrol nih berdua sama lo. Gue menikmati tapi nanti pas gue balik, pasti gue ngerasa capek.”

Gue berdeham sambil mengangguk-angguk tanda gue mengerti.

“Ya… karena gue percaya. Gue cuma akan jalan sama orang-orang yang gue percaya.” Sambungnya ringan.

Ringan, nggak ada emosi yang berlebihan layaknya gue berbincang dengan lelaki kebanyakan. Namun, dia nggak paham kalau dampak dari apa yang dia bicarakan itu bisa membuat dada gue mengembang.

“Oh, jadi gue perlu berbangga nih berhasil membuat lo keluar dari kosan hari ini?” Gue menanggapinya bercanda, mencoba biasa saja seakan gue baik-baik saja.

“Oh iya, jelas! Lo segilintir kecil manusia di planet ini yang bisa membuat gue keluar.” Sahutnya dengan sama bercandanya, tentunya diikuti dengan sebuah tawa yang renyah.

Pembicaraan kami terus berlanjut tak ada habisnya. Lebih tepatnya, gue nggak membiarkan itu berhenti sesebentar apa pun. Lho, mumpung ketemu. Kapan lagi?

Sampai salah dia menyadari kalau gue pulang malam itu dan menanyakan jam berapa keberangkatan kereta gue nanti.

“Kereta lo jam berapa, Lan?” Tanyanya.

“Hm. Jam setengah 10. 21.45, De. Bengawan.” Jawab gue santai bahkan tanpa melihat jam.

Perbincangan tetap berlanjut meski topik pembahasan mulai berkurang, meski sudah beberapa kali lampu mati di warung itu. Gelap menyelimuti tiap-tiap dari kami pengunjung di sana. Namun, tidak ada dari kami yang beranjak. Jogja masih deras diguyus hujan.

Merasa nggak nyaman dengan gelap gulita, gue menyalakan senter dari ponsel. Gue letakkan ponsel di ujung meja dekat dengan dinding membiarkan cahaya berpantul di sana. Setidaknya, ada sedikit cahaya dimana kami bisa melihat wajah satu sama lain. Tidak juga memposisikan senter sampai menyilaukan mata kami berdua.

Hujan tak kunjung reda. Ade pun bertanya pada gue mengenai bagaimana ia harus mengantar gue pulang dan membeli bakpia.

“Lan, mau nunggu reda atau tetep jalan?” Tanya ragu.

“Ya, jalan aja, De. Ini juga deres. Di motor ada jas ujan kok, dua.” Jawab gue santai.

“Lagi juga ini udah jam delapan.” Sambung gue.

Nggak lama, kami pun bangkit dari bangku masing-masing. Tentunya, kondisi warung sudah terang benderang. Gue membuka resleting tas gue untuk mengeluarkan dompet berniat membayar apa yang telah kami makan. Anggap saja, terima kasih gue, pikir gue begitu.

Kembali ke titik kami datang di warung ini, kami bertanya berapa yang harus dibayar. Nggak begitu mahal kalau dibandingkan dengan Jakarta. Jelas ini sangat murah untuk sup ayam yang lumayan enak atau bahkan enak banget? Gue cekatan mengeluarkan selembar uang berwarna biru dari dompet berbahan kanvas.

“Gue aja.” Gue pun memberikan uang tersebut kepada ibu yang tadi melayani kami saat datang.

Seketika Ade juga mengeluarkan uangnya. Katanya, “Nggak usah.” Kemudian mengambil uang gue dari tangan ibunya dan mengembalikannya kepada gue.

Gue pun mengeluh. Niatnya kan gue mau baik, setidaknya terima kasih atas waktu dan dia yang mau menemani gue serta menyetir motor berkeliling Jogja hari itu. Dengan apa yang dia lakukan waktu itu, gue pun merasa nggak enak kepadanya.

Ibu warung sup merah pun mengolok-olok gue. “Nggak usah, Mbak. Udah sama, Masnya. Kapan lagi, kan? Udah simpen aja uangnya.”

“Iya, Bu. Ini mau pulang ke Jakarta dia.” Ade menanggapi.

Si Ibu pun mengaduh. “Tuh, kan.”

Adegan membayar sup pun selesai. Kami berdua pun berjalan ke parkiran motor di bawah rintik hujan. Gue kemudian melakukan protes kepada Ade.

“Ih, jangan gitu apa, De. Nggak enak gue.”

“Nggak apa-apa. Sekali-kali ini. Lo ada power bank nggak?” Dia malah menanyakan hal yang lain. Masalah itu pun nggak lagi dibahas.

“Lo ada kabelnya?” Tanya gue balik memastikan karena tipe ponsel kami berdua berbeda. Dia tim Apple, gue Android aja udah.

“Ada.”

Gue pun mengubek-ubuk tas gue dan mencari pouch yang berisi kabel dan peralatan elektronik lainnya. Cukup sulit karena berada di dasar tas Nike berwarna oranye stabilo yang mungkin menyakitkan pandangan.

“Ada nggak?” Tanya Ade memastikan.


“Ada kok, ada. Sebentar.” Gue memintanya menunggu sambil membuka resleting tas lebih besar agar bisa mengoreknya lebih dalam.

Nggak lama, keluarlah pouch kain katun putih yang gue dapat dari membeli Gelang Harapan. Kini ia sudah berganti fungsi, memberi harapan lain, saat gue kehabisan baterai.

Kami berdua mengenakan jas hujan yang sebenarnya modelnya sangat gue benci karena tetap membuat kami kebasahan, nggak berguna juga dipakai atau nggaknya. Lalu pergi meninggalkan warung sup merah ke suatu tempat yang gue nggak tau. Iya, lagi-lagi kami tidak cukup baik berkomunikasi atas tujuan perjalanan ini.

Melewati jalan yang gue nggak kenali sama sekali di tengah hujan. Gue nggak banyak ekspektasi hanya berharap bisa naik kereta tepat waktu sebab waktunya sudah mepet sekali. Namun, tahu kemana Ade membawa gue pergi kali ini?

Gue mengaduh dalam hati. Ade tetap membawa gue ke toko bakpia untuk oleh-oleh orang Jakarta, keluarga, teman kantor, bapak kosan bahkan teman lari. Toko bakpia dengan merek yang direkomendasikan orang-orang, Bude gue dan Teya, Bakpia Pathok 25.

Gue berusaha menyelesaikan transaksi secepat mungkin. Selain nggak enak karena Ade menunggu gue, gue juga harus punya kalkulasi yang akurat agar nggak ketinggalan kereta. Gue langsung bertanya kepada pramuniaga yang ada soal jenis-jenis bakpia yang ada.

Akhirnya, gue memilih dua jenis yang berbeda. Bakpia kering yang satu kardusnya terdiri dari bermacam rasa untuk oleh-oleh selain orang rumah, teman lari, bapak kosan maupun orang kantor. Sementara, untuk orang rumah gue memilih bakpia basah dengan kualitas medium dan rasa cokelat dan keju.

Selesai. Gue pun menuju anteran di kasir. Melihat ada wingko babat, gue pun mengambil satu bungkus untuk oleh-oleh lainnya. Lalu, semua belanjaan gue dimasukkan ke dalam kardus. Gue pun siap kembali ke rumah Bude gue untuk pulang ke Jakarta.

Buru-buru mengejar waktu dada gue penuh rasanya, gue mulai tidak bisa bernapas dengan normal, napas gue tersengal-sengal. Bagaimana tidak? Semakin mepet dengan jadwal keberangkatan kereta ditambah gue belum selesai packing semua peralatan yang gue bawa ke Jogja. Intinya, gue harus secepat mungkin sampai ke rumah.

“De, secepat yang lo bisa dan lo mampu, ya.” Gue meminta tolong masih dengan senyum cengengesan, sebuah usaha untuk mencairkan kecanggungan di antara kami yang sama-sama deg-degan.

Nggak banyak bicara, Ade kembali mengendarai motor sewaan gue. Di jalan ia bertanya sesuatu tapi gue nggak begitu jelas mendengarnya. Gue pun menjawab sekenanya, “Ya, kalau lo mau, nggak apa-apa.”

Beberapa lama kemudian, gue baru paham kalau dia bertanya soal motor yang gue sewa ini, mau dikembalikan dimana, kapan, jam berapa. Gue pun menjelaskan kalau motor ini akan gue kembalikan di Stasiun Lempuyangan sewaktu gue sampai sana. Jadi, ya, nggak begitu repot juga.

Namun, muncul lagi satu pertanyaan lainnya. “Gue harus nganterin lo juga nih?” Tanya ragu. Namun, gue menangkap ada nada keberatan darinya di sana.

Lagi-lagi gue menjawab dengan pernyataan yang sama, “Ya… kalo lo mau sih, nggak apa.” Jawab gue basa-basi, menggantung, nggak pasti.

Padahal, di kepala gue berisik soal kalkulasi waktu yang ada. Gue membayangkan skema yang akan terjadi, jam berapa menit keberapa gue akan sampai di rumah Bude gue. Kalau Ade nggak mengantarkan gue ke stasiun dan ia harus langsung berangkat ke kantornya, berapa lama waktu yang ia butuhkan untuk memesan ojek online dan gue harus menunggunya. Kemudian, berapa lama gue akan menyelesaikan packing gue yang terbengkalai karena terlena oleh obrolan kawan lama. Belum lagi soal seberapa cepat gue harus memacu motor untuk bisa sampai di Stasiun Lempuyangan tepat waktu. Oh! Jangan lupa juga soal mengembalikan motor kepada penyewanya.

Kepala gue sakit sebenarnya tapi berlagak baik-baik saja. Sudah berada nggak jauh dari rumah Bude gue, Ade bertanya, “Lo tahu kan rumahnya yang mana?”

Gue pun mengutuk diri gue sendiri dalam hati. “Tahu kok.” Jawab gue sok yakin padahal nggak yakin-yakin amat.

Sifat pelupa gue ini tuh lumayan kebangetan, terutama soal visual kayak gini, arah tuh kelemahan gue. Gue buta arah. Kemudian, mencari aman, gue pun menyalakan GPS agar tahu lokasi tepatnya dimana.

Sayang, meski sudah dibantu peta tercanggih pun gue tetap salah. Salah soal rumah yang mana, gang yang mana. Gue cuma ingat kalau rumah itu berada di ujung jalan tepat di simpang. Masalahnya, gangnya banyak dan gue nggak hapal. Terbaik!

Akhirnya, gue pun membawa Ade berkeliling sebentar dalam kebingungan yang gue buat sendiri dan membuat ia bertanya lagi, “Lo tahu kan rumahnya, Lan?”

“Tahu kok. Tapi emang guenya aja lupaan. Gue buta jalan, De.” Jawab gue jujur.

Nggak usahlah dalam kondisi panik seperti itu. Malam sebelumnya, ketika gue pulang tengah malam setelah bertemu Teya, gue tetap tersesat. Bingung rumah Bude gue sendiri yang mana. Payah memang!

Kembali melihat peta, memastikan posisi rumah yang gue tuju. Akhirnya, gue menemukannya.

“Itu, De! Itu!” Gue memberi tahu sambil menunjuk rumah tingkat di ujung jalan sana.

Sampai di rumah gue langsung dengan cekatan membuka gerbang rumah dan meminta Ade memasukkan motor ke dalam garasi agar ia juga nggak kebasahan. Selain itu, kembali meminta pertolongannya.

“De, kayaknya lo harus nganterin gue ke stasiun deh.” Kata gue ragu.

Dia diam.

Gue pun melanjutkan, “Kalo nggak gitu nggak kekejar.”

“Lo packing berapa lama?” Tanyanya.

“Secepat yang gue bisa.” Jawab gue tegas.

“Berapa lama?” Ade mengulang pertanyaan yang sama.

“Gue akan bikin nggak lebih dari 10 menit.” Jawab gue setelah memilih angka yang tepat. Iya, gue lebih suka main aman dengan menjanjikan orang waktu yang lebih lama agar gue nggak dibilang lambat atau terlambat. Tricky.

“Ya udah kalau gitu. Buruan. Gue tunggu.” Katanya sambil membuka jas hujan.

Gue pun yang kalut ini memintanya untuk masuk ke rumah. Nggak sopan juga gue membiarkan dia begitu saja meskipun di tengah kepanikan. Nggak tahu diri namanya.

Belum sempat gue membuka pintu, kakak sepupu tertua gue membuka pintu.

Haduh!!!” Serunya.

Bude gue pun mengekor di belakangnya, juga bertanya, “Kehujanan?”

“Pakai jas hujan, Bude.” Jawab gue singkat, buru-buru sambil menunggu Ade yang ada di belakang gue.

“Ayo masuk dulu, De.” Kata gue sambil melepas sepatu yang nggak pernah gue ikat agar lebih mudah.

Ade mengiyakan sambil mulai membuka ikatan tali sepatu Converse hitam model tinggi yang sudah kebasahan. Cukup lama untuk kondisi yang tengah kalut seperti ini. Namun, gue masih menunggunya.

Mbak Farah, kakak sepupu gue itu mengingatkan gue untuk packing segera, “Kamu belum packing, kan? Packing dulu sana.”

Nggak lama Ade pun selesai berurusan dengan sepatunya dan masuk ke dalam rumah. Ia dipersilakan oleh kakak sepupu gue. Gue kemudian langsung ngacir ke lantai atas, ke kamar untuk membenahi perbendaharaan gue yang masih tercecer dimana-mana.

Gue langsung menyatroni gantungan baju di ruang atas, mencari pakaian yang gue jemur karena basah kehujaan saat ke Merapi. Nggak ada. Bude gue yang rupanya mengikuti gue pun memberi tahu kalau baju tersebut sudah dipisahkan. Gue bersyukur dalam hati.

Masuk ke dalam kamar gue langsung berlutut di tumpukan benda-benda gue, berbagai tas dan isinya. Tanpa banyak pikir gue pun memasukan semua yang ada secara sembarangan. Masukin aja dulu. Gampang nanti bisa diberesin, pikir gue. Bude gue pun mengatakan hal yang sama sambil nggak berhenti mengingatkan apakah ada barang yang tertinggal.

Nggak sampai lima menit, gue sudah selesai berkemas dan turun ke bawah, siap berangkat. Gembolan di sana-sini gue menuruni tangga dan mengambil satu tas tambahan lainnya, oleh-oleh dari Mbak Farah untuk orang rumah, makin banyak saja bawaan gue ini.

Tanpa buang banyak waktu, gue segera pamit dan menyalami tangan mereka satu per satu, kakak sepupu gue, Bude dan Pakde. Menyebalkannya, Pakde gue ini masih sempat-sempatnya mau mengulik latar belakang Ade. Penasaran.

Sebelumnya, memang gue mendapat nasihat soal mempersiapkan pernikahan dari Bude-Pakde gue. Sambil mendengarkan, waktu itu gue menghela napas dalam hati. Mereka menganggap usia gue ini sudah cocok untuk menikah. Sementara, gue masih memikirkan soal keluarga dan bertanggung jawab untuk mereka. Belum lagi soal patah hati yang baru saja kering lukanya. Gue butuh waktu sendiri dan ingin membahagiakan diri sendiri lebih dulu.

Berusaha untuk menghindar dari segala pertanyaan itu, ternyata gue nggak mampu. Hari itu, hari pertama gue datang ke rumah itu, Pakde gue bertanya apakah gue sedang dekat dengan seseorang. Setidaknya dekat, nggak perlulah yang langsung mengajak menikah.

Awalnya gue nggak mengerti, gue jawab saja belum karena memang nggak ada, belum. Belum ada yang mengajak gue menikah dan serius untuk saat ini. Namun, kalau yang dekat, ya ada, pacar, ya ada. Tetapi kami sama-sama nggak ada rencana untuk menikah dalam waktu dekat.

Waktu itu, Senna bertanya sama gue, “Za, lo mau nikah kapan?”

Terkejut. Pertanyaan macam apa ini? rutuk gue dalam hati walaupun sebenarnya pertanyaan semacam ini wajar ditanyakan orang yang berada dalam hubungan terlebih di usia segini.

Gue kemudian menjawab ringan, “Hm? Nggak tahu. Belum kepikiran.”

Gue menampik pertanyaanya, Pakde gue ini tetap nggak percaya. Katanya, gue berusaha mengakali dia. 

"Kamu mau ngakalin Pakde, ya?" Katanya curiga.

Padahal gue hanya salah menangkap saja pertanyaan beliau dan mengklarifikasinya dengan bilang ada. Mungkin, saat Ade ke rumah buat antar-jemput gue ke stasiun, beliau ini menganggap yang gue bicarakan waktu itu adalah Ade. Padahal, bukan. Mereka dua orang yang berbeda.

Saking salah pahamnya, Pakde gue ini tetap bersikeras menanyai Ade soal bagaimana bisa teman SD masih berkontak sampai hari ini, belum lagi tinggal dimana, asli mana dan lain sebagainya. Pertanyaan introgatif bibit, bebet, bobot orang Jawa. Padahal, saat itu Ade sedang mengenakan sepatunya. Kami, gue, Mbak Farah dan Bude, pun memprotes Pakde gue ini.

“Pakde!!! Atung!!!” Kami berseru.

Ade selesai mengenakan sepatunya dengan sempurna, gue pun kembali berpamitan. Begitu juga dengan Ade. Kami berangkat menuju Stasiun Lempuyangan, masih menerjang hujan yang sama. Bedanya, kali ini gembolan yang gue bawa lebih banyak. Tangan kanan dan kiri penuh dengan tas besar.

Menyadari bahwa gue sangat tidak efektif sebab banyak sekali tas yang bergelantung di tangan dan pundak gue, gue pun mencari cara dan waktu yang tepat untuk sedikit mengemasinya. Motor yang kami kendarai pun berhenti di persimpangan lampu merah, saatnya gue memaksimalkan ruang yang ada.

Beruntung gue dulu memutuskan untuk membeli tas belanja Decathlon yang ukurannya kayak karung beras, gue selalu bisa menjadikannya tas penyelamat di saat gue keluar kota dengan bawaan yang banyak di luar perkiraan. Begitu juga dengan saat itu di Jogja.

Berhasil mengeluarkan tas belanja putih tersebut, gue mulai memasukkan satu per satu tas yang lebih kecil, yaitu tas sepatu dan tas belanja lainnya yang berisi oleh-oleh dari kakak sepupu gue. Tersisa satu PR lagi, kardus bakpia. Gue merasa ia masih bisa gue masukkan ke tas Decathlon ini. Tapi nanti, nggak sekarang. Nggak bisa juga karena dia posisinya di depan.

Dengan kemampuan terbaiknya, Ade pun memacu motor secepat mungkin sambil menampilkan sedikit kebarbaran orang Jogja dalam berkendara. Barbar karena memotong dan melawan arus sesukanya.

Meski dalam kepanikan, gue masih bisa bercanda, “Oh, ini barbarnya orang Jogja tuh begini ya, De?”

“Iya, Lan. Bukan orang Jakarta doang yang suka ngelanggar.” Sahutnya.

Padahal, sebelumnya gue berpikir bahwa orang Jogja atau orang Jawa kebanyakan adalah orang yang patuh dan sabar. Setidaknya, stereotip gue terhadap mereka di tanah Jawa itu begini; nggak akan buru-buru dan heboh memencet klakson ketika lampu berubah dari oranye ke hijau. Tidak juga, kebut-kebutan atau selap-selip seenaknya.

Namun, semuanya nggak benar sepenuhnya. Setidaknya poin pertama yang gue sebutkan di atas sudah gue alami sebelumnya, bahkan sebelum Ade melakukan kebarbarannya barusan.

Sampai di Stasiun Lempuyangan, motor dimasukkan ke parkiran. Gue pun memilih posisi yang cukup ke ujung dari parkiran, menyesuaikan dengan lokasi pengambilan motor waktu itu. Namun, kali itu gue memilih yang berada di bawah kanopi biar nggak kehujanan.

Turun dari motor, Ade bertanya apakah gue sudah janjian dengan penyewa motor untuk mengembalikannya saat itu juga. Gue jawab belum. Bagaimana bisa? Sepanjang jalan ponsel gue taruh di dalam tas agar nggak kehujanan atau takut terjatuh di jalan.

Menurunkan tas dan kardus dari motor setelah melepas jas hujan, gue langsung menghubungi penyewa motor melalui WhatsApp. Awalnya hanya mengirimkan pesan karena lama membalas gue pun meneleponnya. Lewat telepon, si penyewa pun meminta gue menunggu sebentar untuk mendatangi gue.

“Masih lama nggak?” Tanya Ade.

“Sebentar katanya. Dia lagi jalan ke sini.” Jawab gue santai.

Jam masih menunjukkan pukul 21.23. Masih ada beberapa menit lagi, pikir gue.

Sayangnya, di kondisi itu hanya gue yang santai, Ade nggak. Ia pun berinisiatif meminta gue untuk ke dalam stasiun terlebih dahulu untuk mencetak tiket online sembari menunggu penyewa motor datang.

“Mending lo ke dalem dulu deh. Print tiket.” Katanya mengingatkan.

Gue pun langsung berjalan menuju gedung stasiun sambil membawa semua bawaan gue, dibantu Ade juga mencari-cari tempat mencetak tiket keberangkatan.

“Dimana, De?” Tanya gue.

“Ini?” Gue menunjuk sebuah loket.

“Bukan.” Jawabnya.

Kami pun terus berjalan sampai bertemu dengan meja yang berisi komputer berjajar. Gue langsung mendekati salah satunya sambil menitip barang bawaan kepada Ade, mencetak tiket keberangkatan. Nggak lama, nggak sampai dua menit malahan.

Gue kembali menghampiri Ade dengan membawa tiket yang telah dicetak. Ia kembali bertanya soal penyewa motor, apa sudah kembali memberi kabar. Belum, jawab gue. Ia pun bertanya lagi. Kali ini soal nama kereta yang akan gue tumpangi.

“Bengawan, De.” Jawab gue masih santai.

Nggak lama, kami mendengar pengumuman bahwa kereta akan segera berangkat. Gue pun melihat layar televisi yang menampilkan jadwal keberangkatan kereta dan Bengawan ada di barisan paling atas. Gue harus segera.

“Ya udah kalau gitu mending lo masuk dulu deh. Nanti motor gue yang urusin.” Katanya menyuruh gue untuk bergegas.

“Ya udah, nanti gue kasih kontak lo ke masnya.” Jawab gue buru-buru dan agak panik.

Sebenarnya, di kondisi itu gue agak jengkel karena jadwal keberangkatan beberapa menit lebih awal, sekitar lima menit. Makanya, gue masih bisa tenang-tenang saja dan bersantai seakan kereta akan menunggu gue.

Meski menggurutu dalam hati, gue tetap melakukan check in seperti yang diarahkan oleh Ade. Ia mengantar gue sampai ke meja pemeriksaan tiket, gue pun menunjukkan tiket dan KTP gue yang telat dipindahkan di lanyard bersama kartu-kartu gue lainnya.

Selesai diperiksa, gue melihat bahwa kereta akan segera berangkat. Peron sudah sepi oleh penumpang. Hanya tersisa satu petugas yang nampak di pandangan gue. Seluruh pintu kereta sudah tertutup. Bodohnya, gue masih bisa melakukan seremoni perpisahan dengan Ade.

Dah, De! Makasih ya!” Seru gue kepada Ade setelah melewati petugas sambil berlarian kecil dengan gembolan di sana-sini.

Dalam hati, gue kembali merutuk. Gue nggak sempat berfoto sama sekali dengan Ade. Nggak ada waktu tersisa di stasiun untuk mengabadikan momen kami bertemu kembali.

Masih berlari secepat mungkin, semampu gue, gue mendengar ada pengumuman lainnya dari pengeras suara. Sebuah peringatan bagi masinis untuk menahan sebentar keberangkatan.

“Iya... Masinis, tunggu sebentar. Masih ada satu orang tertinggal.” Kata lelaki dari pengeras suara.

Peringatan itu selesai, gue telah sampai di depan pintu kereta ditemani satu petugas. Sayangnya, pintu itu tertutup rapat dan tidak ada petugas lain di dalamnya. Petugas yang bersama gue pun mengetuk-ngetuk kaca pintu kereta berharap ada seseorang membukakannya untuk gue. Dari kejauhan, gue juga masih bisa melihat Ade menunggu gue benar-benar masuk ke dalam kereta, memastikan gue aman.

Dalam kepanikan, rasanya cukup lama sampai satu orang penumpang yang duduk di dekat pintu membukakan pintu. Padahal, sedari tadi ia melihat kami berada di depan pintu dan mengetuknya. Entah apa yang ia tunggu tapi gue berterima kasih banyak padanya.

Dengan napas yang masih terengah-engah karena berlari, gue berhasil masuk ke dalam kereta. Tidak lupa dengan semua bawaan yang gue punya dan meletakkannya sebentar di lantai kereta, sekenanya.

“Bu, ini gerbong berapa ya?” Tanya gue kepada seorang ibu yang duduk bersama dengan perempuan yang tadi membukakan gue pintu.

“Delapan.” Jawabnya singkat.

“Gerbong berapa? Delapan ya?” Tanya gue ulang namun kali ini lebih seperti bertanya kepada diri sendiri.

Ibu itu tidak menjawab. Gue pun memeriksanya sendiri dengan melihat angka yang tertera pada dinding kereta di dekat pintu. Benar, gerbong delapan. Beruntungnya gue nggak perlu berjalan untuk pindah ke gerbong lainnya.

Gue melangkah masuk ke dalam gerbong dan mencari tempat duduk gue sesuai dengan nomor yang tertera di tiket. Untungnya, tidak jauh dan masih sepi. 7D, nomor kursi yang gue cari, tepat berada di ujung lorong.

Tanpa banyak menunggu, gue langsung meletakkan semua barang bawaan gue di lantai, melepaskan ransel Fila berwarna cokelat yang sudah usang ke kursi. Kemudian dengan cekatan menarik tas Decathlon dan kardus bakpia gue ke satu kursi lainnya di belakang untuk gue naikkan ke rak di atas.

Masih sepi, gue merasa memiliki cukup banyak waktu untuk mengemasi isi tas yang nggak karuan itu. Gue pun berbalik ke kursi di belakang sambil mengemasi isinya agar lebih baik. Juga, memisahkan baju atau benda yang sekiranya gue butuhkan selama perjalanan nanti, seperti boneka Kaka, maskot Asian Games 2018, untuk bantal maupun camilan.

Bangku di belakang gue, nomor 5 dan 6 masih kosong sama sekali, belum ada yang menduduki. Gue leluasa dalam mengatur segala perlengkapan. Ada satu bapak juga yang duduk di kursi seberang gue, ia sedang mengisi daya ponselnya. Kesempatan lain untuk beliau agar tidak berebut dengan yang lainnya.

Selesai berkemas, gue pun ingin mengganti pakaian yang basah agar tidak masuk angin dan menitipkan tas gue yang belum gue tutup resletingnya.

“Pak, titip ya!” Pinta gue basa-basi dan mencoba percaya. Lalu, berjalan ke kamar mandi kereta.

Isu virus Corona atau COVID-19, yang sudah menjadi pembicaraan hangat di kalangan masyarakat Indonesia saat itu, menjadi derita sendiri buat gue yang harus ke kamar mandi. Tanpa Corona pun gue nggak sudi sebenarnya untuk memakai kamar mandi itu. Kalian tahulah alasannya apa.

Berjuang keras untuk meminimalisir kontak dengan pegangan yang ada di kamar mandi maupun melihat lubang yang jauh dari kata bersih, gue berusaha mengganti baju secepat mungkin. Tidak lupa untuk membersihkan tangan setelahnya dan membuka pintu tanpa memegang gagangnya. Keluar dari sana, gue sedikit merasa lega dan kembali bisa bernapas normal.

Namun, perjuangan belum selesai. Gue masih harus membersihkan wajah yang hari itu, tumben-tumbennya gue mau merias wajah dan menggunakan eyeliners kebanggaan gue tetapi sudah mulai terhapus karena terguyur hujan di sana-sini. Gue harus menghapusnya dengan sempurna agar tidak malu jika dilihat orang. Belum lagi harus berganti sepatu dan membersihkan kaki. Banyak sekali yang harus dikerjakan. Untungnya, gue membawa tisu bawah yang cukup untuk memfasilitasi semua ini.

Semuanya sudah selesai. Wajah, kaki bahkan ponsel pun gue bersihkan. Baterai sudah cukup untuk sepanjang perjalanan sampai ke Jakarta. Saatnya gue memberikan kabar kepada yang lainnya, seperti kakak sepupu gue maupun keluarga gue di rumah.

Soal Ade, jelas sudah duluan, pertama malahan. Mengapa dia pertama? Karena motor sewaan gue dia yang mengembalikan.

“De.” Gue panggil via WhatsApp.

Sebuah kebiasaan yang nggak sedikit orang kesal karenanya. Hal ini disebabkan gue mengirimkan pesan satu baris untuk satu kalimat. Kesukaan gue adalah memanggil nama orang yang diketik hanya dalam beberapa huruf dan memisahkannya tersendiri, paling awal, hanya satu baris. Seperti ini misalnya.

Kemudian, gue mengirimkan kontak penyewa motor kepadanya. Sebelumnya, gue sudah mengontak penyewa rental dan memberitahunya bahwa gue sudah naik kereta dan motor akan dikembalikan oleh teman gue.

“Ini kontak orang rental.”

“Gue udah kasih tau sih.”

“Kalian kontakan saja coba ya.”

“Tolooooong.” Gue memohon tidak lupa dengan emoticon menangis seperti air terjun di ujungnya.

Ade malah bertanya balik, “Tinggal ngasih doang ya?”

Gue mengiyakan dan memberitahunya bahwa nanti si penyewa akan mengembalikan kartu BPJS Kesehatan gue yang berharga kepadanya. Gue pun memintanya untuk menjaga kartu tersebut, sumber kehidupan dan kekuatan gue, pelarian ketika gue sedang lemah-lemahnya, meminta pertolongan kepada yang berwenang, tenaga kesehatan maksudnya.

Setelah cukup tenang karena semua persoalan di Jogja sudah selesai. Gue pun berterima kasih padanya, benar-benar berterima kasih. Bukan hanya soal waktu dan tenaganya, lebih dari itu, ini soal dia yang mengingatkan gue terus agar nggak ketinggalan kereta. Dia menyelamatkan gue.

Anw, terima kasih telah menyelamakan gue fufuJangan kapok yaa!” Oceh gue dalam WhatsApp.

Okay. Anytime ya.” Jawabnya diikuti dengan tawa khas manusia Indonesia, wkwkwkwk.

My savior~” Sahut gue lagi.

Lalu, ia pun berkeluh soal kelakuan gue ini, “Lo yang mau pulang, gue yang deg-degan.”

Dalam hati gue berkata, oh... bukan hanya Anda. Satu rumah tadi pun panik dengan kelakuan gue ini. Bahkan, diri gue sendiri pun panik dengan kebodohan gue ini.

Namun, gue membalas WhatsApp-nya santai dan masih bercanda, “Untung lo pembalap dan tahu jalan. Selamatlah gue.”

Nggak ngerti lagi sama Zakia ini. Sepertinya dia itu anak pantai sekali, hidupnya santai sekali. Padahal, tinggal di Belitung hanya tiga tahun itu pun ke pantainya jarang. Bikin teori sendiri anak ini. Pasti!

“Lo kalau tadi ketinggalan kereta mau kek mana, nggak mungkin ngejar pake motor kan kita.” Masih saja orang ini memprotes gue. Tidak lupa dengan emoticon wajah yang ditekuk. Sebal!

“Padahal perkiraan gue cuma sepuluh menit nyampe stasiun, ternyata lebih” Lanjutnya.

Gue pun menggodanya soal, siapa tahu ia ingin kembali ke sini dengan mengendarai motor? Kan bisa saja. Lalu, gue pun bercerita soal kekesalan gue karena kereta yang cheating lima menit berangkat lebih cepat. Kemudian, gue yang dimarahi. Gue yang salah.

“Lo tuh ya, udahlah nggak tahu cetak tiket dimana, keretanya apa, berangkatnya jam berapa.”

Tapi, gue tetap membahas soal dia yang ternyata pernah kepikiran untuk pulang ke sini dengan mengendarai motor.

Ia bilang, “Dulu sempet kepikiran gini sih.”

Gue menanggapi dengan antusias, tidak merasa bersalah atas kelakuan gue yang mepet-mepet barusan, “Kan... siapa tahu gue bisa makes your dream comes true” yang diikuti dengan emoticon tertawa tiga buah.

“Ya udah, besok dah kalau lo kesini lagi.” Katanya.

Lalu, percakapan kami terus berlanjut. Selain, soal bercandaan ini gue pun menemukan alasan lain untuk kembali ke Jogja, untuk lari di depan Keraton di jalan berbatu yang kami lewati saat mengobrol sore itu.

“Bagus! Lari di Keraton buat foto adalah alasan yang cukup baik untuk balik ke Jogja sih.” Balas gue.

Lalu, ia pun mengingatkan gue bahwa belum tentu saat gue kembali ke sana titik foto yang gue maksud masih berbatu. Siapa tahu ia telah ditumbuhi rumput.

“Nggak bisa lihat track banget ya lo ini orangnya. Berdoa aja ya nggak ditanemin rumput depan Keraton.” Ia berusaha menggoda gue.

Gue menyanggahnya, meski telah dirumputi, trek itu masih bisa buat lari. Namun, ia bilang, mungkin nggak akan semenggoda itu dan semenarik saat itu, katanya.

Baiklah, gue tidak kehilangan akal. Gue pun menitipkan pesan padanya kepada keluarga Keraton untuk tidak menanamkan rumput di titik itu, setidaknya sampai gue kembali ke sana dan membuat konten lari di sana.

“Jangan dirumputinlah kalo gitu. Bilang sama orang Keraton, jangan dirumputin sampe gue ke sana lagi gitu, De.”

Ia pun menolak karena merasa bukan bagian dari keluarga Keraton. Gue nggak peduli dan memaksa dia untuk tetap mengamankan bahan konten lari gue di masa depan.

“Tolong Anda bergaul dengan orang Keraton demi mengamankan lahan konten saya.” Paksa gue.

Dan... setelah itu kontak kami terputus sementara.

Rupanya, ponselnya bermasalah, mati total tidak dibisa digunakan sama sekali. Sampai beberapa hari lalu, ia kembali mengontak gue dan memberi tahu kondisinya serta menanyakan percakapan terakhir kami sampai mana.

Melihat kepribadiannya, gue tidak mau ambil pusing atau membebani. Gue jawab kalau yang terakhir kami bahas bukanlah apa-apa dan nggak penting-penting amat, nggak dilanjutkan pun nggak apa, nggak masalah. Namun, ia tetap bertanya dan mencoba mengingat-ingat. Gue menyerah dan memberi tahunya.

Percakapan pun bersambung. Kami membahas lagi soal pertemanan karena saat ini ia menggunakan ponsel dari temannya, meminta bantuan. Di titik ini ia nggak mengerti mengapa temannya masih mau membantunya, padahal ia berpikir bahwa ia ini teman yang menyebalkan, how suck i am as a friend, katanya.

Gue mengamini yang dia katakan karena gue juga merasa tipe manusia yang menyebalkan dan banyak orang nggak suka. Namun gue mengingatkan dia, setidaknya segimana pun kita di mata orang lain, ketika orang itu mau membantu kita saat kita butuh artinya kita cukup berarti di hidup mereka, kita punya nilai di hidup mereka.

Sebagaimana gue merasa cukup berarti dan bernilai ketika dia mau meluangkan waktunya di tengah jadwal kerja shift yang gue tahu itu melelahkan. Sebagaimana gue merasa bersyukur punya teman seperti dia yang mau keluar kosan untuk menemui gue, mengobrol bersama gue nggak ada habisnya sampai berhujan ria mengantarkan gue ke stasiun penuh kepanikan ditambah dengan Pakde gue yang bertanya macam-macam lagi. Gue nggak ngerti harus gimana lagi.


Dia yang menyelamatkan gue dari ketertinggalan kereta dan tertinggal di Jogja. Namun, di sisi lain, gue merasa tetap tertinggal di Jogja yang katanya istimewa. Jogja yang benar membuat gue merasa istimewa di kali kedua gue mengunjunginya. Terima kasih atas ceritanya, Jogja dan orang yang berada di sana.

You Might Also Like

0 komentar